Membangun Semangat Tim

“Saya ingin tim saya memiliki sense of ownership, motivasi tinggi, jujur, ramah, dan peduli dengan pekerjaan temannya….” (one of manager)

Keinginan-keinginan tersebut selalu diungkapkan oleh hampir sebagian besar para manager pada saat kami melakukan observasi pra training. Namun disisi yang lain, para karyawan mengatakan bahwa mereka tidak bisa maksimal karena tidak adanya dukungan atasan, mereka merasa tidak diberi training yang cukup untuk meningkatkan skillsnya agar efektif, bahkan merasa bahwa tidak pernah dilibatkan dalam perbaikan sistem atau proses kerja. Cukup ironis bukan ?

Mitchell Thall, Presiden Epicure, mengatakan bahwa “orang-orang dewasa ini lebih mencari sesuatu daripada hanya sekedar gaji. Mereka ingin diperlakukan sebagai seorang manusia. Itu nampaknya terdengar klise namun banyak atasan yang masih belum mengerti”.

Selain soal ingin dipahami dan dimengerti sebagai pribadi dewasa maka berikut ini kami tunjukkan tips praktis dan konkret untuk memberi semangat bagi tim kita agar mereka mau dan mampu meningkatkan kinerjanya, yaitu :

  1. Menyediakan makanan ringan dan minuman bagi para karyawan sehingga tempat tersebut menjadi semacam “meeting point” bagi para karyawan. Pada saat itulah problem dan komplein serta objection dapat diselesaikan dikalangan mereka sendiri.
  2. Atasan perlu lebih sering terlibat dalam pekerjaan para karyawan. Tujuannya adalah memberikan sinyal kepada mereka bahwa atasan pun siap serta berempati dan mendukung goal bersama.
  3. Jika tersedia budget maka berikanlah seragam kepada mereka dengan tulisan yang membangun spirit mereka. Misalkan “if you believe, you can !”, “see it, do it, own it” dsb.
  4. Membaca dan memberikan tanggapan serta menuliskan saran terhadap “weekly report” setiap individu. Hal ini penting sebagai tanda bahwa kerja mereka tidaklah sia sia namun juga memberikan sinyal positif bahwa atasan mencurahkan waktu bagi mereka dan sasaran kerja.
  5. Memberikan kesempatan bagi para karyawan membubuhkan namanya pada setiap hasil kerjanya. Contoh : karyawan diijinkan menuliskan namanya di proposal yang hendak dikirim ke klien, nama karyawan dituliskan di baju hasil produksi, namanya ditulis di mug yang dia desain, dan lain sebagainya.

Masih banyak hal yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan semangat mereka, namun saya mengusulkan silahkan menerapkan lima tips tersebut dan segera lihat perubahannya. Saya yakin jika kita konsistem menerapkannya maka kita akan mendatkan hasil positif.

Sebagai penutup tulisan singkat ini mari kita renungkan kalimat inspiratif dari Hal Rosenbluth, CEO Rosenbluth International, berikut “tingkat pelayanan tertinggi berasal dari hati, sehingga perusahaan yang berhasil merebut hati para karyawannya akan mampu memberikan pelayanan terbaik mereka”.

Bagaimana menurut anda?

Antonius A. Marhendro , Lead Trainer-Consultant

AIS Training and Consulting

Leave your comment

0 Comments